Grammar Membunuhmu?

Saat pertama kali memutuskan untuk memulai belajar Bahasa Inggris, apa yang terlintas di pikiran kalian ketika mendengar kata “Grammar”?
Rumus? Membingungkan? Ribet? Bikin mual? Membosankan? Terlalu kaku?
Ya, pastilah itu yang sebelumnya bersarang di kepala.

Namun, ketahuilah bahwa sebenarnya Grammar tak semengerikan itu. Grammar bukanlah sesuatu yang harus ditakuti bahkan dihindari. Justru Grammar-lah yang mampu menjadi“obat”untuk pengguna Bahasa Inggris yang “sakit”. Ya, sakit yang dimaksud adalah “sakit” karena adanyakesalahan-kesalahan penggunaan Bahasa Inggris yang nyaris tidak dihiraukan.Bahkan kesalahan itu kebanyakan telah mengakar dalam percakapan sehari-hari. Pun tak jarang kesalahan-kesalahan itu tak disadari telah viral diucapkan oleh para netizen di berbagai media sosial.

Grammar Membunuhmu?


Hal itulah yang justru kadang membuat geli. Apalagi ketika yang salah kaprah itu diucapkan terus-menerus sehingga dianggap benar. Misalkan,dalam kalimat “Aku bosan.”Nah, dalam hal ini, kebanyakan orang sering mengucapkannya dengan gaya ala Bahasa Inggris: “Aku boring nih.” Padahal, ketika kata “Boring”digunakan, arti yang terkandung adalah karakter orang, sehingga, maknanya adalah: membosankan. So, kalimat “Aku boring nih.” berarti “Aku mebosankan nih.”Jadinya lucu bukan? Nah, hal semacam itulah yang perlu diobati. Karena “sakit” yang seperti itu jika tidak segera diobati akan menimbulkan gejala “komplikasi” dalam Bahasa Inggris.

Contoh lain, terkadang orang masih bingung dalam mengartikan kalimat“Apakah kamu suka monyet?”. Dalam kalimat ini, tak jarang orang masih bingung memilih antara menggunakan “Are you like monkey?” atau “Do you like monkey?”. Padahaldaridua kalimat tersebut, maknanya sangat jauh berbeda.Jika kalian memakai “Are you like monkey?” maka artinya adalah: “Apakah kamu seperti monyet?”semetara “Do you like monkey?”artinya: “Apakah kamu suka monyet?”.

Nah, dalam hal ini, Grammar-lah yang akan meluruskan kemiringan arti yang salah tadi. Dalam konteks ini, kita bisa merunut dari materi Kalimat Verbal-Nominal dan Kelas-kelas kata. Jadi ketika sudah bisa memahami Kalimat Verbal-Nominal, maka akan semakin tercerahkan bagaimana menggunakan kata “like”yang maknanya “suka” dan “seperti”. Jangan sampai kita yang niatnya bertanya, karena ketidaktahuan itu malah justru disangka mengejek. Bisa bahaya.

Tak hanya itu saja, misalkan dalam kehidupan percintaan anak muda yang masih dalam masa PDKT. Pasti tidak asing dengan kalimat “Have a nice dream!”. Seringkali diucapkan anak muda zaman now saat menggombali gebetan sebelum tidur. Setiap orang pasti sudah tahu bahwa kalimat tersebut artinya: “Semoga kamu mimpi indah!”. Tapi, pernahkah kita berpikir dari mana asal makna “semoga”?Nah, dalam konteks ini juga, materi Grammar-lah yang akan membahas perihal hal tersebut. Tepatnya, asal ungkapan tersebut berasal dari materi Fungsi Modal Auxiliary pada bagian Wishes(Do’a atau harapan). Bentuk lengkap sebenarnya adalah “May you have a nice dream!”. Namun dalam ungkapan sehari-hari (Daily Expression), seringkali modal dan subject dihilangkan. Alhasil, jadilah “Have a nice dream!”. Begitu pula pada ungkapan “Get well soon!”(Semoga lekas sembuh!)“God bless you!” (Semoga Tuhan memberkatimu!) Semuanya berasal dari Modal Auxiliary.

Dalam hal lain, saat orang baru belajar berbicara Bahasa Inggris dengan temannya, tak jarang mereka memakai hukum: yang penting aku paham dan kamu paham, selesai!Okelah, ketika hal itu dipraktikkan dengan teman sendiri.Mungkin awal kali bisa dimaklumi. Namun, saat bicara dengan Native Speaker atau Bule asli, hal itu bisa berbahaya. Ada hal yang musti dihati-hati. Karena, kadangkala bisa salah tafsir dan akhirnya salah paham antara kalian dengan bule-nya.

Misalkan, saat kalian ditanya “Where are you going?”“Mau ke mana kamu?”
Sementara kalian sebenarnya ingin menjawab: “Saya ingin makan.”Kadang ada yang menjawab “I want to eat.” Ada pula yang menjawab “I want eating.” Sekilas hampir mirip. Ketika sama-sama baru belajar, kedua kalimat itu mungkin bisa dianggap sama saja. Dan teman kalian pasti paham maksudnya apa. Namun, ketika sedang berbicara dengan Native Speaker,kedua kalimat itu tentu akan berbeda maknanya. Saat kalian mengatakan “I want to eat.”,maknanya adalah “aku ingin makan.”Nah, ini benar. Tapi,saat kalian mengatakan “I want eating.”maka, maknanya adalah “aku ingin dimakan.”Betapa kalian bisa membayangkan bagaimana ekspresi si bule saat mereka mendengar ucapan yang keliru itu. Dan akhirnya, yang muncul nanti adalah pemakluman. Nah, hal seperti Itu perlu diobati. Jangan dimaklumi tapi segera dibenarkan.

Di kancah media sosial saat ini, orang juga tak jarang yang mengatakan “Which is...”
Kebayakan mereka mengucapkan Which is... asal ikut-ikutan tanpa tahu bagaimana penggunaan dengan benar. Nah, bagaimana penggunaan Which is...yang benar, itu akan dijelaskan di Grammar juga. Tepatnya pada pembahasan Adjective Clause. Singkatnya,Which is... digunakan untuk menjelaskan benda bukan orang (Non-person). Misalkan: “Berita yang diposting di Facebook itu bohongan.” Maka kita bisa memaknainya dengan “The news which is posted on Facebook is hoax.” Nah, itu baru benar.

Diakui atau tidak, fenomena seperti ini menjadi gejala yang dialami oleh banyak orang. Terlebih adalah saat orang pertama kali memutuskan untuk belajar Bahasa Inggris. Dewasa ini,banyak yang baru menyadari pentingnya belajar Bahasa Inggris.Hal itu bisa jadi lantaran berbagai tuntutan. Seperti, dunia kerja, persyaratan melanjutkan study ke jenjang berikutnya, hingga persyaratan mengikuti ujian kelulusan.Akhirnya, banyak yang memutuskan untuk (mungkin) “terpaksa” belajar Bahasa Inggris.

Nah, tapi tenang saja. Terpaksa hanyalah awal dari sebuah permulaan.Jika keterpaksaan itu dilawan, hingga kalian sudah bisa menikmati seni belajar Bahasa Inggris dan bisa menggunakannya dengan baik, hal itu bisa menjadi salah satu hal yang mengasyikkan dan bahkan menjadi candu. Sederhananya, kita bisa selangkah lebih keren dibandingkan yang lainnya dalam membuat caption di Instagram, facebook, twitter atau pun media sosial lain yang tidak common sense.Keren bukan?Tapi hati-hati! Benahi dulu kalimatnya, pastikan tidak salah dalam menulis. Jika salah dan fatal, nantinya bukan jadi keren tapi hanya sok keren.
Jadi, berbahagialah bagi orang-orang yang mau memulai Bahasa Inggris dengan mendalami Grammar dahulu. Karena, merekatidak akan kena “penyakit” seperti yang saya ungkapkan tadi. Namun tak bisa dimungkiri memang pembiasaan dan repetisi itu sangat perlu. Karena sejatinya, bahasa adalah kebiasaan. Kalau tidak dibiasakan, akan butuh waktu lebih lama bahkan akan muncul rasa susah dalam belajar Bahasa Inggris. Dalam hal ini, orang yang menguasai Grammar akan lebih punya kesempatan besar karena dia bisa menulis, mempaktikkan apa yang ditulis dengan diomongkan serta bebas memilih antara kapan harus menggunakan bahasa formal maupun tidak formal. Maka dari itu, Grammar menjadi hal yang patut ditanamkan sejak dini saat ingin menguasai Bahasa Inggris dengan total.

Selain itu, kreativitas mencampurkan (mixing) dari beberapa skill saat praktik berbahasa Inggris juga penting. Hal itu bisa dipraktikkan. Seperti halnya dalam program Fullday Class yang ditawarkan di Rumah Inggris Jogja. Di dalam sehari, para peserta belajar disuguhkan dengan empat materi dalam sehari. Yaitu, Grammar, Speaking, Pronunciation dan Vocabularies.Nah, saat mixing dilakukan, peserta dapat melakukan improvisasi yang sangat efektif di camp atau asrama yang berbasis English Area.

Misalkan, dalam kelas Grammar peserta mendapatkan teori dasar dalam menulis kalimat sederhana Verbal dan Nominal dengan benar. Nah, kemudian itu bisa dipadukan dengan Vcabularies yang sudah didapat di kelas. Saat hendak melakukan improvisasi Speakingdan Pronunciation, kalimat yang ditulis dan dikarang tadi bisa dipraktikkan saat ngobrol dengan temannya di camp.Tentu saja, jika hal itu bisa konsisten dilakukan, maka belajar bahasa Inggris bisa lebih efektif untuk pemahaman dan efisien waktunya. Namun hati-hati, saat kalian belajar, salah satu musuh terbesar adalah kemalasan.Jika kalian memang pemalas, urungkan saja niat belajar Bahasa Inggris. Tapi jika kalian sedang on fireuntuk mendalami bahasa Inggris, mulailah dengan cara yang benar dan bahagia dengan datang ke Rumah Inggris Jogja.

Sekali lagi, apakah Grammar membunuhmu?
Tidak!Grammar tidak mematikan. Justru Grammar-lah yangbisa mengobati kalian dari “kesakitan” yang mungkin tidak kalian sadari. Ya, meskipun kadang memang sedikit tidak enak karena harus butuh berpikir lebih, tapi menyembuhkan. Percayalah. Saya pernah mengalami “sakit” seperti itu. Alhamdulillah sekarang saya sudah sembuh.
Terimakasih Grammar!


Akhmad Baihaqi Arsyad
Grammar Teacher in Rumah Inggris Jogja

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel